
Namanya Jonathan Favreau, lahir 2 Juni 1981. Jabatan sekarang Director of Speechwriting di Gedung Putih. Dialah sosok penting di hampir semua pidato Barack Obama, sebelum maupun sekarang menjadi Presiden.
Jon sangat populer dengan speech yang akhirnya menjadi slogan kampanye Obama di senat Illinois tahun 2004, “Yes, We Can”. Jadi Obama walau jago ‘ngomong’ tetap perlu dibantu dengan tim penulis pidato. Jon biasanya dibantu at least 2 staff.
Inti speech tetap dari Obama, biasanya Jon akan mencatat point-point penting lalu melakukan research untuk memperkuat point-point Obama sehingga menjadi pidato yang mengesankan. Untuk pidato penting seperti Inaugural Speech, mereka bertemu sekitar 4-5 kali sebelum akhirnya setuju dengan pidato yang sekarang bisa ditonton jutaan orang di Youtube.
Jonathan Favreau adalah Director of Speechwriting termuda kedua di sepanjang sejarah Gedung Putih.
Obama memiliki beberapa punch line yang sungguh inspiring karena didukung oleh tim penulis naskah yang tangguh di bawah pimpinan Jon Favreau, namun Obama adalah Orator yang ulung. Berbagai improvisasi dilakukannya saat pidato. Bahkan walau dibantu oleh 2 teleprompter di kanan dan kiri, namun beliau terlihat sangat natural dan tidak terlihat sedang membaca. Karena Obama tampak sangat menguasai pidatonya. Teleprompter tampaknya hanya dijadikan sebagai guideline untuknya, bukan untuk dibaca
Tidak lupa membuka dengan sesuatu yang lokal, “Pulang Kampung, nih” tuturnya sambil tersenyum yang disambut dengan gemuruh Balairung UI. Dan Obama kerap menggunakan bahasa Indonesia di setiap teks yang bisa ia rubah. Seperti saat harusnya bilang “Indonesia is a part of me”, dia bertutur “Indonesia bagian dari diri saya”. Walau saat mengucapkan Pancasila tampaknya dia sudah lupa cara melafalkannya. Maklum dulu dia masih sangat kecil saat berada di Indonesia.
Masa kecil memang kerap menjadi faktor penting untuk seorang anak tumbuh besar. “…a time that helped shape my childhood” kata Obama soal 4 tahun berada di Jakarta (tepatnya Menteng Dalam). Sejak kecil Obama sudah bercita-cita jadi Presiden walau mungkin tidak ada teman sekolahnya yang waktu itu berpikir bahwa Barry kecil benar-benar akan kembali lagi ke Indonesia setelah menjadi orang nomor satu di Amerika.
Beberapa tahun di Jakarta membuat Barry kecil mampu appreciate banyaknya ragam. Ayah tiri-nya Lolo Soetoro, seperti mayoritas rakyat Indonesia yang beragama Islam, percaya bahwa semua agama harus di respek dan semangat toleransi beragama sangat dirasakan Obama kecil.
Obama beberapa kali menekankan the beauty of religious tolerance dalam rangkaian Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman dan demokrasi akan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa kalau kita jalankan dengan benar. “Hand in hand, that is what development and democracy are about – the notion that certain values are universal. Prosperity without freedom is just another form of poverty” tutur Obama yang juga menjadi punchline yang banyak di RT di twitter. Bener juga ya, masih banyak negara yang prosper namun rakyatnya tidak memiliki freedom
Bahkan sahabat saya, seorang redaktur senior koran nasional kirim message pada saya setelah selesai acara, “Aku jadi lebih nasionalis setelah dengerin pidato Obama”
Bayangkan, pidato dari orang luar negri yang pernah tinggal hanya 4 tahun di Indonesia mampu menggugah kita semua sebagai bangsa Indonesia. Kembali saya mencoba untuk positive thinking… Someday Indonesia akan memiliki seorang pemimpin muda yang mampu memberi inspirasi positif kepada rakyatnya sehingga lebih nasionalis dan mampu membuat masyarakat Indonesia lebih sejahtera lahir dan batin. We’ll see… time will tell
DIBALIK KATA2 OBAMA " PULANG KAMPUNG NIH "
Welly Dermawan, Rabu, 30 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Comments :
0 komentar to “DIBALIK KATA2 OBAMA " PULANG KAMPUNG NIH "”
Posting Komentar